Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Jumat, 20 November 2015
Bricks Cina seri PIRATE Ship
Jumat, 04 Juli 2014
Assassin's Creed - Forsaken, Juli 2014
Selesai dengan buku ke-5 serial Assassin's Creed, target berikutnya adalah buku-6 yang berjudul Forsaken. Berbeda halnya dengan buku ke-5, kali ini alur cerita berjalan cukup normal (dalam artian tidak terkesan diburu-buru, dipadatkan dan dipaksakan). Namun isi cerita yang disajikan oleh Oliver Bowden pada buku ke-6 ini tidak berbeda dengan buku sebelumnya. Ciri khas kisah seorang ordo rahasia kaum Assassin yang memiliki kredo suci, musuh Ordo Templar, sedikit sekali dimunculkan dan bahkan tidak sesuai dengan judul yang disandang oleh buku ini, Assassin. Namun secara garis besar, isinya masih memiliki hubungan dengan kisah yang diceritakan pada Black Flag di buku sebelumnya.
Selasa, 01 Juli 2014
Assassin's Creed - Black Flag, Juni 2014
Setahun sudah sejak saya mengikuti serial novel karangan Oliver Bowden ini di pertengahan tahun 2013. Kini, persis setahun kemudian, saya baru sadar bahwa ternyata serial novel yang berasal dari permainan video game terkenal, Assassin's Creed ini telah merilis kembali ke dalam bahasa Indonesia dua novel barunya yang berjudul Black Flag dan Forsaken. Mengingat dalam beberapa waktu belakangan ini belum ada novel baru yang cukup menarik perhatian saya, maka saya putuskan untuk tidak menyianyiakan kesempatan dan membeli ke-2 serial novel lanjutan ini.
Jumat, 31 Januari 2014
FRIENDS versi Cina
Jumat, 24 Januari 2014
NINJAGO Versi Cina
Kalau bicara soal mainan edukasi seperti LEGO yang memiliki varian jenis dan model berbagai rupa, pasti (atau pada umumnya) orang akan mengenal salah satu seri modelnya yang bernama "NINJAGO". Seri ini dipopulerkan tidak hanya dalam bentuk seri mainan, tetapi juga hadir sebagai serial film kartun dan video games. Begitu terkenalnya sehingga seri NINJAGO ini termasuk yang ditiru penuh oleh salah satu merek bricks Cina bernama BELA tanpa sedikitpun merubah desain komponen, kotak kemasan dan juga buku panduannya. Bedanya di produk buatan BELA ini adalah, judul seri yang diubah tanpa menggunakan huruf "GO" sehingga hanya tertulis sebagai "NINJA". Kebetulan produk ini jugalah yang memperkenalkan saya kepada produk bricks Cina dan membawa ketertarikan saya lebih jauh kepada produk-produk sejenis lainnya.
Kamis, 23 Januari 2014
Plus Minus Bricks Cina
Kamis, 16 Januari 2014
Mainan Bricks Cina
Setiap orang pasti kenal dengan salah satu mainan edukasi terkenal yang berasal dari negeri Denmark, LEGO. Mainan yang umumnya disebut bricks (dalam bahasa Indonesia berarti batu bata) ini merupakan salah satu mainan yang dapat membantu perkembangan otak anak karena dapat memberikan rangsangan berpikir dan berimajinasi secara visual bentuk tiga dimensi sesuai dengan umur anak-anak. Tapi sayang-nya, seiring dengan tertinggalnya perekonomian Indonesia yang berdampak kepada kurs mata uang, harga mainan brick bermerek LEGO ini kian hari semakin tidak terjangkau, alias mahal sekali. Untuk golongan menengah ke bawah membeli mainan brick bermerek ini terkadang sebanding atau bahkan lebih tinggi daripada pengeluaran untuk kebutuhan utama mereka. Memiliki bricks LEGO terkadang hanya angan-angan saja.
Senin, 29 Juli 2013
Serial Novel Assassin's Creed
Setelah selesai dengan serial novel The Alchemist yang berjumlah 6 buku serta dibarengi dengan masa-masa liburan sekolah, kesempatan ini juga digunakan untuk bisa menikmati novel lainnya. Berhubung baru saja menikmati cerita novel berseri, jadi sekarang kita cari serial novel yang juga terdiri dari beberapa buku. Cari punya cari, pilihan jatuh pada cerita Assassin's Creed yang sepertinya sudah lama jadi novel favorit juga. Setelah browsing dan cari tahu di toko buku, ternyata sampai 2013 ini sudah dirilis 4 buah novel serial Assassin's Creed. Jadi mulailah kita hunting di toko buku dan internet untuk bisa mengumpulkan serial komplit dari kisah ini.
Jumat, 28 Juni 2013
Buku Ke-6 Michael Scott (Terakhir), The Enchantress
Buku ini adalah buku yang paling dinanti-nantikan oleh para penggemar The Alchemist, Nicholas Flamel dan istrinya The Sorceress, Perenelle Flamel...Kenapa? Karena buku ke-6 karya Michael Scott ini adalah buku terakhir atau penutup dari kisah petualangan pasangan manusia abadi tersebut dan juga Si Kembar emas dan perak, Josh dan Sophie. Kebetulan beberapa waktu yang lalu sedang iseng lihat-lihat ke toko buku, ternyata baru sadar bahwa buku ini sudah terpajang di tumpukan dan langsung saja saya sikat tanpa pikir dua kali. Walaupun sebenarnya buku ini sudah rilis di akhir tahun 2012 di Amerika Serikat, tapi karena mungkin menunggu proses terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia, buku ini baru dirilis di Jakarta sekitar bulan Juni 2013 ini (atau bahkan sudah sejak Mei).
Baca Selengkapnya......
Selasa, 01 Mei 2012
Review Iseng External Memory
Karena udah lama nggak nulis artikel blog dan kebetulan baru beli beberapa aksesori gadget dan aksesori komputer baru, jadi sekalian aja di sharing ke siapapun yang kebetulan buka blog ini. Barang baru-nya berupa USB Flashdisk dan Micro SDHC untuk tambahan memory storage Samsung Galaxy S II. Kebetulan karena urusan pekerjaan dan juga sebagai Bendahara KTI maka kemanapun pergi selalu perlu membawa data-data dalam bentuk external storage. Dan karena kapasitas USB Flashdisk yang saat ini juga sudah semakin besar, maka ketimbang membawa External Hard Drive yang cukup menyita tempat, USB Flashdisk (UFD) menjadi pilihan yang paling sesuai.
Sebelumnya saya selalu menggunakan 2 buah UFD bermerek Sandisk Cruzer type CZ36 berkapasitas 16GB untuk data-data pekerjaan dan kapasitas 2GB untuk data-data lain. Kenapa Sandisk? Karena Sandisk merupakan salah satu pabrikan UFD yang memiliki kualitas terbaik dari segala hal seperti kualitas, kekuatan, dan kecepatan baca maupun tulis. Sampai akhirnya saya butuh kapasitas penyimpanan data yang lebih besar karena semakin banyaknya data-data yang harus disimpan, maka beberapa waktu lalu saya membeli UFD dengan kapasitas 32GB bermerek Sandisk Ultra CZ45. Ini adalah salah satu jenis Sandisk yang beredar di pasaran di Jakarta yang memiliki kapasitas terbesar saat ini. Dan karena menurut review yang saya baca di salah satu toko online UFD ini memiliki kemampuan baca/tulis yang bagus, maka saya putuskan untuk membelinya.
Setelah Sandisk Ultra CZ45 ini tiba, maka yang pertama saya lakukan adalah menguji apakah kemampuan baca/tulis dari UFD ini sesuai dengan yang diiklankan dengan menggunakan sebuah aplikasi gratis SpeedOut v5.0 yang didapat di internet. Dan setelah dites ternyata CZ45 memiliki kecepatan baca/tulis yang cukup baik, tetapi ternyata kemampuan nya masih berada di bawah CZ36 lama saya.
Selain UFD baru, saya juga membeli Micro SD sebagai media penyimpanan data untuk Samsung Galaxy SII (SGSII) saya yang kebetulan menjadi gadget andalan untuk emailing, browsing, searching, reading, socializing dan sebagainya. SGSII sudah bagaikan teman saat di perjalanan menuju dan sepulang kantor dan juga saat lenggang. Untuk bisa menyimpan data-data tambahan dan multimedia lainnya, saya putuskan juga untuk memiliki external storage berkapasitas 32GB serta tambahan 16GB yang akan saya fungsikan juga sebagai external drive. Kebetulan setelah googling di internet, beberapa merek Micro SD yang direkomendasikan oleh beberapa ulasan yang sangat cocok untuk gadget adalah Micro SDHC Class 10 bermerek TEAM dan TRANSCEND, karena memori dengan Class 10 ini memiliki kecepatan baca/tulis yang sangat tinggi dan cocok sebagai media penyimpan multimedia khususnya film-film High Definition (HD).
Maka saya coba mencari penjual online dengan harga yang kompetitif. Namun karena kebetulan merek TEAM memiliki paket promosi yang menyertakan USB Reader dalam kemasannya yang dapat menjadikan Micro SD ini bagaikan UFD, saya putuskan untuk memilih merek TEAM berukuran 16GB dan 32GB yang yang dalam paket-nya menyertakan USB Reader. 1 buah saya pakai di SGSII sementara 1 lagi saya fungsikan sebagai UFD. Saya pun penasaran dengan kecepatan Micro SDHC ini, jadi saya lakukan juga pengujian baca/tulis menggunakan SpeedOut dengan hasil yang sangat bagus.
Untuk TEAM Micro SDHC 32GB class 10 saya mendapatkan hasil baca rata-rata 17.5 MB/s dan tulis rata-rata 15.5 MB/s, sementara TEAM Micro SDHC 16GB class 10 saya mendapatkan hasil baca rata-rata 19 MB/s dan tulis rata-rata 10.7 MB/s. Jika dibandingkan dengan UFD Sandisk yang saya miliki, kecepatan baca Micro SDHC ini sebanding dengan Sandisk Cruzer 16GB, tetapi kamampuan tulis nya yang luar biasa....jauh di atas kedua UFD Sandisk yang saya punya. Hanya saja sampai saat ini saya belum tau kekuatan Micro SDHC ini saat difungsikan sebagai UFD yang secara terus menerus terpasang di CPU. Apakah mampu menggantikan fungsi UFD atau hanya di saat darurat saja dan tidak dapat secara terus menerus terpasang ke USB slot.
Baca Selengkapnya......
Untuk TEAM Micro SDHC 32GB class 10 saya mendapatkan hasil baca rata-rata 17.5 MB/s dan tulis rata-rata 15.5 MB/s, sementara TEAM Micro SDHC 16GB class 10 saya mendapatkan hasil baca rata-rata 19 MB/s dan tulis rata-rata 10.7 MB/s. Jika dibandingkan dengan UFD Sandisk yang saya miliki, kecepatan baca Micro SDHC ini sebanding dengan Sandisk Cruzer 16GB, tetapi kamampuan tulis nya yang luar biasa....jauh di atas kedua UFD Sandisk yang saya punya. Hanya saja sampai saat ini saya belum tau kekuatan Micro SDHC ini saat difungsikan sebagai UFD yang secara terus menerus terpasang di CPU. Apakah mampu menggantikan fungsi UFD atau hanya di saat darurat saja dan tidak dapat secara terus menerus terpasang ke USB slot.
Selasa, 27 Maret 2012
Buku ke-5 Michael Scott, the Warlock
Wah, saking sudah lamanya nggak beli Novel karena pekerjaan yang berjibun dan kesibukan lainnya sehingga nggak sempat untuk cek & re-chek toko buku, ternyata baru kemarin mampir lagi ke G@!#%*&a ternyata sudah rilis buku ke-5 Michael Scott yang judulnya The Warlock. Buku ini adalah jilid kesekian dari serial cerita tentang tokoh Alchemy bernama Nicholas Flamel yang memiliki kemampuan alkemis sehingga dia dan istrinya Perenelle Flamel, seorang Sorceress mampu hidup abadi hingga ratusan tahun. Petualangan mereka berdua untuk menyelamatkan kehidupan humani (manusia) mempertemukan mereka dengan sepasang humani kakak beradik kembar, Sophie dan Josh, yang memiliki aura perak dan emas, yang dianggap menjadi kunci masa depan dunia dan juga alam bayangan beserta para mahluk penghuni-nya. Begitu melihat buku-nya, langsung saja saya ambil tanpa pikir panjang karena mengikuti serial novel ini seperti hidup di dua alam....alam nyata dan fantasi (lebay juga saya ya...hehehe). Anyway, saat ini baru sempat membuka beberapa bab awal dan sudah langsung dihadapkan ke cerita yang sangat seru sambungan jilid sebelumnya. Sudah nggak sabar untuk melanjutkan.Senin, 04 April 2011
Nge-Tab dimana2
Sudah sejak di awal munculnya komputer tablet generasi terbaru seperti Apple iPad yg kemudian menjamur dimana-mana, tidak membuat saya tertarik untuk membeli. Apa sih enaknya iPad...terlalu besar untuk digunakan bekerja pada file-file spreadsheet seperti Ms. Office terutama jika menggunakan metode mengetik dengan dua jempol seperti pada BlackBerry. Begitu juga jika dibawa-bawa ukurannya masih tergolong besar/lebar. Ditambah lagi untuk orang awam seperti saya ini, fungsi pada iPad untuk mengkopi maupun memindahkan file yang hanya dapat dilakukan dengan aplikasi iTunes sangatlah tidak user-friendly. Itulah sebabnya sampai detik ini saya sama sekali tidak berminat untuk membeli iPad, walaupun saya akui untuk kualitas gambar dan animasi serta pilihan software yang ada sangatlah menarik.
Sampai pada akhirnya Samsung mengeluarkan seri tablet yang menggunakan OS Android, yang dikenal sebagai Galaxy Tab, yang pada awal peluncurannya pernah disebut sebagai 'iPad killer'. Awalnya sama dengan iPad, yang saya pikir akan tidak jauh berbeda dengan Galaxy Tab. Tidak user friendly, kemampuan yang sangat terbatas, dan sebagainya. Bedanya adalah saya sudah tahu seperti apa iPad itu karena kebetulan ada anggota keluarga yang punya, sedangkan untuk Galaxy Tab saya tidak tahu secara langsung seperti apa Wujud serta kemampuannya. Hingga ketika ada rekan kantor yang kebetulan membeli Galaxu Tab ini, maka sayapun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk menjajal langsung alat ini. Apa yang terjadi? Ternyata Galaxy Tab ini diluar dugaan saya sebelumnya. Alat ini ternyata sangat kompak, memiliki fitur yang lengkap, user friendly, dan ukurannya pun sangat ideal untuk penggunaan harian. Ukuran layarnya yang 7 " sangat pas dan tidak terlalu kecil untuk melakukan pekerjaan pada file-file Spreadsheet. Pokoknya luar biasa mantap.
Jadi begitu sudah yakin terhadap barang ini maka sayapun memutuskan untuk membeli Galaxy Tab melalui salah satu forum jual beli terbesar di Indonesia. Dan...saya tidak menyesal membelinya. Apa saja yang dapat dilakukan oleh Galaxy Tab? Sejauh ini yang sudah saya ketahui adalah dukungan aplikasi yang tidak kalah komplit dengan Apple, email client Gmail dan Yahoo, chatting, berfungsi sebagai telfon yg mana semua fitur telfon pastilah bisa dilakukan oleh GTab, built in GPS, wireless, bluetooth, kamera foto maupun video, games, dan sebagainya. Bahkan dengan menggunakan satu aplikasi khusus, GTab dapat difungsikan sebagai Wireless Modem. Sayang kecepatan internet yg dihasilkan dari GSM di Indonesia masih sangat jauh dari cepat, jadi walaupun memiliki fungsi wireless modem masih belim bisa dimaksimalkan penggunaannya.
Galaxy Tab memang benar-benar sebuah telpon pintar dengan segudang fasilitas. Dan yang paling membuat saya suka dengan alat ini adalah ukurannya yang sangat pas di tangan sehingga untuk berselancar di internet dapat dengan mudah dan nyaman dilakukan dimana saja dan kapan saja, termasuk menulis Blog ini. Pilihan aplikasi juga banyak, walaupun mungkin belum sebanyak Apple. Tetapi yang membedakan dengan iPad adalah...bahwa pada GTab kita tidak perlu susah-susah melakukan "Jailbreak". Cukup menginstall aplikasi khusus maka kita bisa mendownload segudang aplikasi yang gratis. Untuk installasi aplikasi pun juga sangat mudah. Copy file ke internal memori atau SD Card dan jalankan. Proses copy-paste pun juga sangat mudah, karena GTab dapat langsung dihubungkan dengan komputer dan berfungsi sebagai storage mass (USB Storage) sehingga untuk urusan pindah memindah file tidak tergantung pada satu jenis aplikasi seperti pada iPad (harus melalui iTune).
Last but not least....ini bukan iklan promosi lho ya....cuma sekedar sharing aja buat yang penasaran dengan Galaxy Tab.
Baca Selengkapnya......
Selasa, 29 Juni 2010
Ketagihan Novel-nya Michael Scott
Terkadang saat urusan kantor dan kesibukan yang ada tidak teratur datang-nya, kadang-kadang bengong karena tidak ada yang dikerjakan, kadang-kadang terpaku di layar monitor karena terlalu banyak kerjaan, dan kadang-kadang jenuh karena bengong dan terlalu banyak kerjaan. Cara yang paling mudah untuk pelarian adalah dengan membaca sesuatu yang jauh dari masalah fakta ataupun logika, tetapi mampu membuat rileks pikiran. Oleh karena itulah saya memutuskan untuk mencoba membaca salah satu novel yang sebenarnya merupakan novel lama yang ditulis oleh Michael Scott pada tahun 2007, yang merupakan novel berseri dengan judul utama The Secrets of The Immortal Nicholas Flamel.
Awalnya sih iseng-iseng saja karena tertarik dengan desain tampilan muka dari buku ini, penuh warna dan simbol mistis yang sering dijumpai di buku-buku tentang dongeng sihir maupun fiksi. Melihat sinopsis singkat di bagian belakang buku, sepertinya novel ini bukan novel drama ataupun novel sejarah ataupun novel lainnya yang menurut saya membosankan. Yakin dengan isi novel yang memiliki alur cerita seperti novel-novel karangan Dan Brown, salah satu penulis favorit saya, maka saya putuskan untuk membeli novel ini. Saat itu kebetulan yang terlihat adalah yang berjudul The Alchemist, dan sempat bingung yang mana sebenarnya judul buku ini...The Alchemist-kah atau The Secret of The Immortal Nicholas Flamel...ah, biar saja. Judul tidak penting, yang penting isinya. Begitulah pandangan saya ketika saya putuskan untuk membeli buku itu pertama kali di salah satu toko buku ternama di Jakarta.
Setelah membaca beberapa bab, ternyata isi cerita memang sesuai dengan harapan saya. Dengan menggunakan tokoh-tokoh yang mungkin memang nyata, cerita yang dibawakan mampu membawa saya hingga cukup nyaman dan justru semakin bisa menikmati isi ceritanya. Terus terang saya memang senang dengan cerita-cerita fiksi yang berbau mitologi ataupun dongeng, apalagi kalau dihubung-hubungkan dengan potongan-potongan sejarah yang memang sungguh-sungguh ada dan nyata, seperti pada novel-novel karangan Dan Brown. Bedanya novel karangan Michael Scott ini lebih banyak menggunakan hal-hal dan obyek-obyek yang menurut banyak orang hanya ada di dunia dongeng, seperti mahluk-mahluk monster, dewa-dewa dan obyek-obyek fiksi lainnya. Tapi menurut saya justru inilah kekuatan dari novel ini, dengan membawa pembacanya membayangkan suasana dan gambaran dari hal-hal tersebut sehingga pembaca bisa terus terhanyut dalam alur cerita....yah...setidaknya ini yang terjadi pada saya...hahaha.
Intinya, buku yang saya beli pertama kali ini adalah buku yang benar...maksudnya adalah bahwa ternyata sampai saat ini sudah ada 3 buku yang dirilis oleh penerbit yang merupakan satu rangkaian novel yang bersambung. Untung saya tidak salah beli buku, jika salah, wah....lumayan kesal karena terpaksa mengulang kisah dari awal dimana hasil akhirnya sudah saya ketahui. Buku pertama adalah The Alchemist yang dirilis pada tahun 2007, kemudian The Magician yang dirilis pada tahun 2008, dan yang terakhir adalah buku ke-3 dengan judul The Sorceress yang dirilis pada tahun 2009. Karena membaca novel ini sama asyiknya dengan menonton serial Lord of The Rings, maka di sela-sela pekerjaan kantor yang cukup sibuk dan sisa-sisa waktu luang yang ada, buku ini selalu menjadi pelampiasan untuk sedikit rileks. Saat ini buku ke-3 sedang saya baca, dan jika melihat di internet ternyata sudah ada buku ke-4 yang sudah dirilis di toko-toko buku di Amerika. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini, buku yang berjudul The Necromancer dapat segera dirilis....apa itu Necromancer?....silakan dibaca sendiri di novel-nya. Yang pasti buku-buku ini sangat sesuai dengan selera saya, yang mana saya bukan seorang komentator novel atau karya sastra, dan kebetulan buku ini menampilkan alur cerita dengan tokoh-tokoh mitologi yang merupakan kesukaan saya. Bagi yang menyukai cerita-cerita seperti Lord of the Rings, The Golden Compass, menurut saya novel ini bisa menjadi pilihan mengisi waktu luang.
Selasa, 02 Maret 2010
The Lost Symbol by Dan Brown
Beberapa hari yang lalu, saya baru saja menyelesaikan bacaan buku novel dari karya terbaru Dan Brown (penulis favorit saya) yang berjudul The Lost Symbol. Setelah pertama kali membaca karya Dan Brown beberapa tahun lalu yang judul-nya The Davinci Code, saya langsung nge-fans dengan penulis ini. Tulisan-tulisannya yang dia buat selalu mengangkat banyak obyek-obyek sejarah dan budaya sehingga membuat saya tertarik, khususnya karena ia mampu mengkombinasikan obyek sejarah yang nyata dengan fantasi misteri yang dia tulis.
Terlepas benar atau tidak-nya penjabaran yang disampaikan di novel-novelnya, menurut saya Dan Brown mampu membawa para pembacanya ke imajinasi historis yang menurut saya belum banyak disajikan oleh penulis-penulis lainnya. Mungkin banyak orang yang kemudian bersikap apatis terhadap tulisannya sebagai reaksi, khususnya pada buku pertama. Namun kalau saya pikir, buat apa bereaksi sejauh itu. Wong namanya novel fiksi, jadi kalau mau membahas kebenaran tulisannya ataupun setting sejarah yang ditulis di novel, ya jangan baca novel....baca buku sejarah saja atau buka Wikipedia.
Intinya, dalam buku terbaru ini, kita di bawa ke dunia misteri kelompok Freemason, suatu kelompok elit di dunia barat yang selama ini banyak diasumsikan sebagai kelompok misterius yang juga melakukan ritual-ritual aneh. Dan Brown mampu mengangkat alur cerita di buku ini dengan menonjolkan misteri-misteri dari simbol-simbol kuno yang mungkin berhubungan langsung dengan kelompok Freemason atau bahkan dengan bangunan-bangunan utama di Washington D.C., yang dianggap dibangun oleh para pendiri bangsa Amerika Serikat pada waktu itu.
Menurut saya, The Lost Symbol merupakan salah satu buku terbaik Dan Brown dibandingkan buku lainnya seperti The Davinci Code ataupun Angels and Demons. Buku ini mampu membawa pembaca untuk tetap berada di alur cerita yang penuh misteri dan tanda tanya hingga akhir. Namun ada antiklimaks-nya, dimana di buku ini digambarkan tokoh antagonis-nya yang hanya manusia biasa, mampu membuat CIA pusing tujuh keliling. Tapi secara umum, buku ini sangat seru dan membuat orang yang membaca sulit untuk berhenti...seperti saya.
Karya-karya Dan Brown yang lainnya yang sudah menjadi koleksi:
Tumbennya, untuk buku karya Dan Brown ini tidak diterbitkan oleh penerbit 'Serambi', melainkan oleh penerbit 'Bentang'. Mungkin hak penerbitannya tidak menarik lagi bagi 'Serambi'. Dan khusus buku ini, sudah ada blog khusus yang dibuat sebagai resensi dan juga sedikit ulasan mengenai obyek-obyek yang terdapat di dalam novel ini.
Rabu, 10 Februari 2010
NIKE Live Strong 2010
Kemarin baru browsing untuk cek and ricek jersey-jersey sepeda di internet, dan menemukan edisi jersey 2010 yang dirilis oleh NIKE untuk seri Live Strong. Desainnya manis dan keren, jauh lebih keren dari edisi Live Strong sebelumnya.
Untuk versi original yang dipasarkan melalui salah satu website resminya, harga untuk masing-masing Cycling Short sleeve dan Short pants adalah US$ 90. Jadi kalau ingin punya 1 set seperti gambar di atas, siap-siap mengeluarkan sekitar Rp. 1,8 juta. Bahannya menggunakan Nike Dry-Fit fabrics dengan 100% polyester buatan Italia.
Tapi kalau mau yang versi OEM-nya yang buatan RRC/Taiwan, menurut informasi hanya berkisar 1/3 dari harga asli. Bahan baju 90% polyester + 10% lycra dan bahan celana 100% polyster buatan Coolmax.
Sepertinya menarik juga nih yang versi OEM. Mau gaya tidak perlu mahal khan. Akhirnya diputuskan untuk order 1 set yang versi OEM aja....mudah2an dalam 2 minggu ini barangnya sudah sampai di rumah.
Update:
Barang yang dipesan sudah sampai di Kecapi tanggal 18 Februari 2010 lalu, langsung deh dicoba. Kualitas oke juga untuk kelas OEM, dan berhubung size body sudah mengecil maka ukuran L yang yang dipesan. Cukup dan pas. Hari Mnggu kita jajal untuk sepedaan ke Senayan. Berhubung mama Sari belum punya bicycle pants yang ada pading-nya, sementara celananya dipakai mama Sari dulu untuk sepedaan.Mau gaya nggak perlu mahal khan.....hehehe.
Baca Selengkapnya......
Selasa, 09 Februari 2010
KOSS Spark Plug - In Ear earphone
Barang ini sebenernya sudah agak lama dibeli, kira-kira 3 bulanan yang lalu. Tapi karena iseng-nya lagi kumat, saya coba bikin review tapi review-nya standar aja deh. Review ala orang awam.
Awalnya karena baru punya mainan baru yang sudah lama digandrungi orang-orang seantero dunia, yaitu IPod Nano 5G yang sudah dilengkapi dengan kamera video. Suara yang dihasilkan oleh earphone standar bawaan paket sebenarnya sudah cukup bagus, terutama buat saya yang orang awam. Treble dan bass terkesan seimbang sehingga untuk berlama-lama ditempel di telinga tidak terlalu membuat sakit kepala.
Tapi kayaknya untuk kekuatan bass kurang begitu terasa, apalagi kalau dipakai sambil sepedaan. Selain suaranya kurang mantap, tidak bisa nemplok di telinga seperti model in-ear earphone.
Jadilah browsing-browsing untuk cari referensi, cari in-ear earphone yang kualitas cukup bagus tetapi tidak begitu mahal. Setelah tanya sana-sini dan coba cek di salah satu forum jual beli yang cukup rame, jatuhlah pilihan ke produk keluaran KOSS, Spark Plug. Katanya suara bass yang dihasilkan oke sekali dan dengan harga yang tidak terlalu mahal. Jadi diputuskanlah untuk pesan 1 peace dari pedagang di forum. Barang masih baru dan tersegel. Langsung buka dan jajal langsung sampe sekarang. Dan setelah pemakaian kurang lebih 2 bulan, beginilah hasil yang bisa disimpulkan. (sekali lagi ini review orang awam lho ya....)
Pro:
Selain earplug yang menggunakan bahan sponge/busa, sepertinya nggak ada hal lain yang bisa dikategorikan PRO. Sayangnya saya lupa harga belinya....sekitar 170 ribuan kalau tidak salah.
Cons:
- Kabel terlalu panjang sehingga lebih sering membuat kesulitan saat mau digulung ataupun saat ingin digunakan
- Material dari kabel yang sedikit 'seret' sehingga saat kusut agak susah untuk diulur kembali
- In-ear sponge nya kurang begitu rapat mengisolasi lubang telinga, jadi suara dari luar masih jelas terdengar
- Kualitas suara, treble dan bass tidak lebih bagus dari earphone bawaan asli iPod Nano. Istilah 'ada harga ada kualitas' sepertinya berlaku untuk produk ini. Jauh lebih bagus kualitas suara dari earphone asli BB Bold
Biasa-biasa aja, kelebihannya dari earphone asli iPod Nano cuma karena dia menggunakan earplug berbahan sponge/busa, jadi bisa lebih lengket di lubang telinga. Lainnya....."B" aja.
Baca Selengkapnya......
Langganan:
Postingan (Atom)

























